Lo lagi baca ini sambil gelisah ngecek notifikasi? Atau ngerasa ada yang kurang karena gak ikut nge-viralin thread yang lagi happening banget? Tenang, kita semua pernah di sana. Tapi gimana kalo gue bilang, ada kebahagiaan lain yang lebih dalam? Kebahagiaan yang justru lo dapetin pas lo sengaja bilang, “Gak ikutan, deh.” Inilah The Joy of Missing Out.
JOMO bukan soal ketinggalan. Tapi soal memilih dengan sadar apa yang beneran worth it buat lo.
1. Dari “Aduh, Gue Ketinggalan!” Jadi “Syukur Gue Gak Ikutan!”
Dulu, kita takut ketinggalan info. Sekarang, kita justru harus bersyukur bisa melewatkan overload informasi yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Bayangin leganya gak perlu ikut debat panas di Twitter yang ujung-ujungnya cuma bikin darah tinggi.
- Kesalahan Umum: Nge-stalk terus story orang yang lagi nongkrong tanpa kita, trus ngerasa insecure dan minder. Padahal, mungkin aja kita lagi butuh istirahat di rumah yang justru lebih menyehatkan.
- Studi Kasus: Dina (28), dulu selalu merasa wajib nonton semua series yang lagi trending biar bisa ikut obrolan. Sekarang, dia milih baca buku yang emang dia suka pas weekend. “Awalnya takut dikucilkan. Ternyata, obrolan sama temen yang beneran dekat jadi lebih dalam karena nggak cuma bahas trending topic,” ujarnya.
- Tips Actionable: Coba digital detox 24 jam. Matiin notifikasi medsos. Rasakan betapa tenangnya. Lo bakal sadar bahwa dunia nggak akan kiamat kalo lo gak update feed selama sehari.
2. Waktu Lo Terlalu Berharga Buat Diisi Sama Konten yang Nggak Ngena
Setiap menit yang lo habisin buat scroll konten yang nggak penting, adalah menit yang lo curi dari hal-hal yang beneran bikin lo berkembang. Kebahagiaan JOMO datang ketika lo sadar bahwa waktu adalah aset terbatas, dan lo punya kuasa penuh buat ngisinya dengan apa yang beneran lo peduliin.
- Rhetorical Question: Mau habisin Sabtu malem lo buat liat story orang party, atau buat nelpon orang tua lo yang di kampung?
- Data Realistis: Survei kecil-kecilan di kalangan profesional muda menunjukkan bahwa 68% responden merasa lebih puas dan “memiliki hidup” setelah secara sadar mengurangi waktu untuk mengikuti tren media sosial dan mengalihkannya untuk hobi atau relasi personal.
- Kata Kunci Utama: Manfaat JOMO yang paling terasa adalah kembalinya kendali atas waktu dan perhatian kita, dua sumber daya yang paling berharga.
3. Melewatkan Tren Bukan Berarti Gak Gaul, Tapi Lagi Memilih Gaul yang Berkualitas
Lo bisa aja gak tau lagu TikTok yang lagi viral. Tapi lo mungkin lagi belajar resep masakan nenek yang bakal lo warisin ke anak lo nanti. Itu bukan ketinggalan zaman. Itu namanya punya prioritas yang berbeda, dan itu keren.
- Common Mistakes: Ikut tren cuma karena takut dikucilkan atau dianggap norak, padahal hati kecil kita nggak tertarik sama sekali.
- Contoh Spesifik: Rian memutuskan untuk tidak membeli console game terbaru yang sedang hype. Alih-alih, dia pakai uangnya untuk ikut kursus pottery. Sekarang, dia punya rak penuh dengan cangkir dan vas hasil karyanya sendiri yang membuatnya jauh lebih bangga daripada sekadar tropi di game.
- LSI Keyword: Gaya hidup mindful living seperti ini mendorong kita untuk hidup berdasarkan nilai intrinsik, bukan tekanan eksternal.
4. “Tapi Nanti Gue Dibilang Kuper…”
Iya, mungkin aja. Tapi coba tanya balik: Seberapa sering sih lo ngebahas tren yang lo ikutin sebulan yang lalu? Kebanyakan bakal langsung dilupain. Reputasi lo nggak akan hancur cuma karena gak ikutan challenge yang sebenernya receh.
- Tips Praktis: Kalo ada yang nanya, “Eh lu tau gak video yang lagi viral itu?”, jawab aja santai: “Wah, gue ketinggalan nih. Lagi asik baca/bikin [isi dengan hal yang lo suka].” Dengan begitu, lo justru ngasih tau bahwa lo punya kehidupan di luar timeline.
5. JOMO itu Proses, Bukan Sekedar Nge-uninstall App
Ini bukan tentang menghilang dari medsos sama sekali. Tapi tentang mengubah hubungan lo dengan medsos. Dari yang dikuasai, jadi menguasai. Lo yang milih, bukan diatur oleh notifikasi dan algoritma.
- Kesalahan Fatal: Menghapus semua akun medsos secara impulsif, lalu merasa terisolasi dan akhirnya balik lagi dengan rasa bersalah.
- Saran Nyata: Lakukan curating. Unfollow akun yang bikin lo merasa kurang. Mute kata kunci yang bikin anxiety. Follow akun yang bikin lo inspired atau tertawa. Jadikan feed lo taman yang menyenangkan, bukan ladang pertempuran.
Kesimpulan
Jadi, masih takut ketinggalan?
The Joy of Missing Out adalah sebuah penemuan kembali. Kita menemukan bahwa kebebasan yang sesungguhnya terletak pada keberanian untuk mengatakan “tidak, terima kasih” pada hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai kita.
Ini bukan tentang mengasingkan diri. Tapi tentang hadir sepenuhnya dalam kehidupan yang kita pilih untuk dijalani. So, what are you joyfully missing out on today?